Bagian Kehumasan PDPPJ Ikuti Workshop Fenomena Buzzer dalam Strategi Komunikasi Kehumasan | PD. PASAR PAKUAN JAYA
3 | 3 29 Juni 2018 | Dilihat: 78 Kali | Cetak

Bagian Kehumasan PDPPJ Ikuti Workshop Fenomena Buzzer dalam Strategi Komunikasi Kehumasan


Bagian Kehumasan PDPPJ Ikuti Workshop Fenomena Buzzer dalam Strategi Komunikasi Kehumasan

PDPPJKOTABOGOR.COM, Bogor – Bagian Kehumasan Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PDPPJ) Kota Bogor mengikuti forum kehumasan  mengenai fenomena buzzer dalam strategi komunikasi kehumasan. Kegiatan forum tersebut di selenggarakan oleh Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol (Humpro) Setda Kota Bogor di Chrystal Room Hotel Permata, jalan Pajajaran, Kota Bogor, Kamis (28/06/2018).

Selain PDPPJ, kegiatan forum dihadiri perwakilan humas perusahaan lainnya, instansi dan media dan dibuka secara resmi oleh Asisten Tata Pemerintahan Setda Kota Bogor yang juga menjabat Plt. Asisten Umum Setda Kota Bogor Hanafi didampingi Kabag Humpro Setda Kota Bogor Endang Suherman.

Adapun narasumber yang hadir yaitu Ketua I DPC Perhumas Bogor, Rachman Salihul Hadi, Pranata Humas Ahli Pertama Bagian Manajemen Strategi Komunikasi dari Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Siko Dian Sigit Wiyanto.

Dalam paparannya, Ketua I DPC Perhumas Bogor, Rachman Salihul Hadi mengatakan, untuk terbentuknya buzzer dibutuhkan wadah seperti komunitas yang memiliki pemikiran dan ide yang sama.

Ada beberapa pokok yang memunculkan kegiatan Buzzer di dunia maya, diantaranya adalah adanya kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya, pesatnya perkembangan teknologi informasi melalui dunia maya dan kemudahan akses melalui jaringan internet oleh pelaku melek teknologi.

”Ratusan juta orang yang tergabung dalam dunia maya bisa menjadi potensi untuk dijadikan pasar oleh setiap lembaga usaha, namun demikian perlu wadah komunitas agar mereka mudah terpengaruhi,” ujarnya.

Sementara itu, Siko Dian Sigit Wiyanto menyampaikan buzzer dari segi manfaat. Menurutnya keberadaan buzzer ditengah perkembangan teknologi informasi cukup diperlukan karena memiliki dampak yang cukup baik, seperti dapat digunakan sebagai soft selling, jangkauan audience yang lebih terarah, sebagai sekutu saat pra krisis atau saat menghadapi krisis komunikasi dan lebih efisien dibanding placement. Selain itu komentar ketiga dianggap lebih obyektif daripada tanggapan resmi.

“Selain buzzer ada juga influencer dan endoser. Keberadaan influencer dan buzzer internal (instansi pemerintah) dengan jumlah yang jauh lebih banyak dapat memberikan informasi kepada orang-orang di lingkungan media sosial, agar lebih optimal bisa didorong dengan adanya reward dari instansi. Selain itu jauh lebih murah sehingga tidak perlu bayar apa-apa atau tidak semahal selebgram. Terakhir jangkauannya lebih luas karena informasi dari orang terdekat yang menjadi pegawai suatu instansi lebih mudah dipahami,” tutur Siko.

Kepala Sub Bagian Humas PDPPJ, Riadul Muslim yang turut serta dalam kegiatan tersebut mengatakan bahwa Fenomena ini (buzzer) menjadi bagian dari pekerjaan rumah (PR) kita untuk di perhatikan, karena kedepannya akan bisa membantu kinerja kita di media sosial maupun sebaliknya.

(gft)

 


Author: Admin


Tags:

Bagikan