Wujudkan Pasar yang Adil, PDPPJ Potong Peran Bandar | PD. PASAR PAKUAN JAYA
13 | 13 14 Januari 2016 | Dilihat: 453 Kali | Cetak

Wujudkan Pasar yang Adil, PDPPJ Potong Peran Bandar

Bogor- Negara kita dinilai belum mampu menciptakan pasar yang adil dan persaingan yang sehat. Tandanya, kasus-kasus kelangkaan komoditas dan melambungnya harga sembako maupun sayur mayur masih terus terjadi, terutama di pasar tradisional.
Ketika kondisi itu terjadi, yang dirugikan adalah petani produsen dan rakyat sebagai konsumen. Kondisi semakin kacau ketika daya beli masyarakat anjlok dan kepentingan politik ikut memperkeruhnya.

Anggota Badan Pengawas (BP) Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PDPPJ) Kota Bogor, H. Suprapto, mengemukakan, kasus-kasus kenaikan harga sembako atau sayuran termasuk kelangkaan barang di pasar sebetulnya bisa diatasi.

“Hasil pengamatan kami di berbagai pasar tradisional di Kota Bogor, kenaikan harga komoditas yang tidak logis dan kelangkaan terjadi akibat permainan para bandar sebagai mediator antara produsen dengan konsumen atau pembeli,” ungkapnya.

Dijelaskannya, para bandar kerap menghambat-hambat komoditas masuk ke pasar. “Saya sering menyaksikan mobil pengangkut komoditas antre ditahan di pinggir tol sekitar pukul 03.00 wib. Setelah ditelusuri, bandar mengatur jam berapa dia beli dan jam berapa diterima di pasar, dan menentukan harganya. Jadi seperti itu permainannya, memang sengaja, bandar beli murah dan dijual mahal ke pengecer atau konsumen,” bebernya.

Jadi solusinya, kata Suprapto, harus memotong atau memangkas tali perdagangan yang terlalu panjang. “Transaksi antara produsen dengan konsumen harus direct, atau diperpendek jalurnya,” tandasnya.

Suprapto mengatakan, PDPPJ pada tahun 2015 ini telah melakukan Memmorandum of Understanding (MoU) dengan produsen dan beberapa asosiasi. “MoU ini untuk memangkas permainan bandar dan mewujudkan pasar yang adil. MoU ini terus kami sosialisasikan. PDPPJ bisa menentukan kuota barang yang masuk ke pasar sesuai dengan kebutuhan,” paparnya.

Dia menyontohkan, ketidakadilan yang dimaksudnya saat ini bisa dilihat dari harga pisang di petani Rp40.000 per tandan (isi 5-6 sisir). Padahal, harga pisang ketika sudah sampai di pasar Rp15.000 per sisir. Jadi, harga per tandan bisa mencapai Rp60.000. (Sumber:Hallobogor)


Author: administrator


Tags:

Bagikan



untuk memberikan komentar silahkan login terlebih dahulu.
{Tidak Ada Komentar}